Senin, 15 Oktober 2012

Guru yang Postmodern (2)



Dalam pelajaran matematika, misalnya tentang ciri bangun layang-layang yang kedua diagonalnya saling berpotongan tegak lurus, bisa ditanyakan sambil lalu dengan tujuan yang pasti apakah ciri tersebut bisa dibenarkan? Karena pada kenyataannya layang-layang sederhana yang biasa diterbangkan dengan seutas benang, kedua diagonalnya sama sekali tidak tegak lurus tetapi salah satunya melengkung membentuk sebuah kurva. Ketika menyadari hal itu, dapat dipastikan akan timbul keragu-raguan akan kebenaran teori yang sedang mereka pelajari. Keragu-raguan tersebut akan mengarahkan mereka pada pencarian yang akan segera diikuti dengan penemuan.
            “Berhentilah sejenak dan nikmati hidup,” mungkin menjadi saran yang bijak setelah mengajukan pertanyaan yang menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Orang sering memberikan saran ini pada saat kewajiban hidup menyembunyikan manfaat hidup. Di kelas, rutinitas, jadwal, dan tuntutan kurikulum sering membayangi banyaknya momen yang tersedia untuk memperkaya pemahaman materi yang diajarkan. Dengan saran tersebut, guru tidak hanya dapat memaksimalkan perhatian siswa, tetapi juga kedalaman pengertian mereka. Dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk merenung, maka sebagai guru kita telah membantu mereka mendirikan pengertian konseptual yang lebih mendalam, membangun kaitan yang lebih kuat, dan lebih banyak lagi menekankan proses belajar. 
            Bagaimana cara melaksanakan tugas kritis ini? Buatlah agar yang tidak tampak menjadi tampak. Dengan mengasah pikiran, guru membuat siswa sadar akan banyaknya inter-asosiasi yang terjadi dalam benak mereka (Caine dan Caine, 1997). Setelah hal-hal ini disadari atau kelihatan, maka pengertian yang lebih besar dan hubungan yang lebih kuat akan menjadi mungkin.
            Sebagai guru yang postmodern, sebaiknya mulai menterampilkan diri untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan semacam itu agar dapat memberikan prasarana yang mantap untuk memperkaya siswa saat belajar dan dapat Membantu siswa dalam membuat pemahaman yang tidak terlihat menjadi terlihat. Tentu saja, setelah menanyakan hal-hal seperti itu, lalu membiarkannya menjadi tidak terjawab. Pada kesempatan berikutnya, tanyakan tentang informasi apa yang telah mereka dapatkan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tumbuhkan rasa keingintahuan mereka. Jika mereka kelihatan kebingungan mencari sumber informasi, tunjukkan kepada mereka ke mana mereka harus mencari informasi yang mereka inginkan dan dampingi mereka selama pencarian. Mendampingi di sini maksudnya tidak hanya berada di sisi mereka dan hanya mengamati atau memperhatikan mereka saja, tetapi ikut serta dalam pencarian mereka, sehingga guru dapat segera memberikan pertanyaan-pertanyaan baru yang mengarahkan mereka agar sampai pada kesimpulan mereka.
            Apakah prosesnya kemudian selesai ketika akhirnya mereka sampai pada kesimpulan mereka masing-masing? Belum. Jika sebagai guru kita merasa kelelahan mengikuti pencarian mereka, maka mereka juga mengalami kelelahan yang sama bahkan mungkin lebih banyak lagi karena ditambah dengan kebingungan mereka. Jadi ketika akhirnya mereka sampai pada suatu kesimpulan yang mereka yakini kebenarannya setelah mempertanyakan banyak hal, jangan berhenti sampai di situ saja tetapi rayakanlah, beri mereka pujian yang tulus dari dalam hati dan kagumi mereka.
            Masalahnya akan terasa berbeda jika dengan sibuknya siswa mencari informasi, guru mengambil kesempatan untuk beristirahat dari proses tersebut dengan cara duduk di meja guru dan mulai mengerjakan tugasnya yang lain, misalnya mengkoreksi nilai ulangan minggu kemarin. Meskipun kelihatannya guru tidak bersenang-senang atau menganggur, tetapi itu dapat diartikan sebagai salah satu bentuk istirahat dari suatu proses belajar. Jika hal ini terjadi akan sangat berbahaya karena siswa dapat saja tersesat dalam pencarian mereka. Dan jika hal itu terjadi, guru akan kesulitan untuk menuntun mereka kembali ke jalan yang benar karena guru tidak tahu jalan mana yang mereka pilih.
            Pertanyaannya adalah, tindakan apa yang mendukung sebuah komitmen untuk pendidikan menurut sudut pandang dari masing-masing guru. Kegiatan pengajaran dan kegiatan belajar kita sebagai guru hendaknya menunjukkan perjuangan seutuhnya dalam meraih kemajuan dan perbaikan. Suatu pemikiran yang menginginkan kita (guru) mempertahankan kegiatan pendidikan tradisional (guru bertanya, siswa menjawab) kelihatannya sudah tidak mungkin dilanjutkan. Kegiatan belajar di jaman posmodern ini harus dibawa ke arah kegiatan pendidikan yang baru (guru bertanya, SISWA MEMPERTANYAKAN PERTANYAAN GURU).
            Jika kegiatan belajar telah berhasil membuat siswa terampil dalam mencurigai atau mempertanyakan segala sesuatu, maka sebagai guru Anda akan terkejut dengan pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba diajukan oleh siswa yang mungkin tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya, seperti: “Bu, bisakah matahari diganti dengan lampu neon?”
            Pertanyaannya adalah: apakah Anda sebagai guru sudah menjadi guru yang postmodern?

Guru yang Postmodern (1)



Dalam era sistem Makro yang diwarnai oleh Postmodern ini, pendidikan bagi para siswa harus berorientasi pada pengembangan kemampuan siswa untuk membuat penilaian dan keputusan (judgement) sendiri secara tepat dan cepat. Dengan perkataan lain, siswa harus dididik untuk menilai sendiri yang mana yang benar atau salah, baik atau tidak baik, indah atau jelek dan atas dasar itu ia memutuskan perbuatan mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar siswa merasa yakin bahwa keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang baik?

Sesuai dengan ciri postmodern, guru sebaiknya terampil dalam menumbuhkan sikap keragu-raguan terhadap ilmu pengetahuan yang sedang diajarkannya. Caranya bukan dengan menakut-nakuti siswa sehingga mereka bahkan tidak punya keberanian untuk melangkah, tetapi dengan cara membuat mereka lebih terampil dan berani mempertanyakan segala sesuatu yang ada pada realita hidup mereka. Sebagai guru postmodern, kita tidak perlu merasa khawatir dengan pertanyaan para siswa, karena semua pertanyaan yang mengarah pada pertanyaan postmodern tidak memerlukan jawaban dalam seketika. Dan sampai kapan jawaban itu akan muncul? Tidak pernah ada batasan waktunya.
Hal ini akan sangat sulit dilakukan, jika guru masih mempertahankan tradisi lama dalam mendidik. Apalagi kalau kemampuan untuk menjawab pertanyaan menjadi arogansi sang guru karena ingin dianggap serba tahu. Selain merugikan para siswa, guru yang seperti itu akan sangat menderita di jaman postmodern ini di mana guru tidak lagi dianggap yang serba tahu.
       Jadi, seorang guru yang postmodern sebaiknya tidak lagi menuntut jawaban jika mengajukan pertanyaan, tetapi juga bukan berarti tidak menuntut apa-apa. Pertanyaan yang diajukan oleh seorang guru yang postmodern sebaiknya dapat menimbulkan banyak pertanyaan di benak para siswa, yang mengarahkan mereka pada realita yang ada di sekitar mereka. Bagaimana aplikasinya pada Pendidikan Matematika? (Bersambung)