Senin, 15 Oktober 2012

Guru yang Postmodern (2)



Dalam pelajaran matematika, misalnya tentang ciri bangun layang-layang yang kedua diagonalnya saling berpotongan tegak lurus, bisa ditanyakan sambil lalu dengan tujuan yang pasti apakah ciri tersebut bisa dibenarkan? Karena pada kenyataannya layang-layang sederhana yang biasa diterbangkan dengan seutas benang, kedua diagonalnya sama sekali tidak tegak lurus tetapi salah satunya melengkung membentuk sebuah kurva. Ketika menyadari hal itu, dapat dipastikan akan timbul keragu-raguan akan kebenaran teori yang sedang mereka pelajari. Keragu-raguan tersebut akan mengarahkan mereka pada pencarian yang akan segera diikuti dengan penemuan.
            “Berhentilah sejenak dan nikmati hidup,” mungkin menjadi saran yang bijak setelah mengajukan pertanyaan yang menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Orang sering memberikan saran ini pada saat kewajiban hidup menyembunyikan manfaat hidup. Di kelas, rutinitas, jadwal, dan tuntutan kurikulum sering membayangi banyaknya momen yang tersedia untuk memperkaya pemahaman materi yang diajarkan. Dengan saran tersebut, guru tidak hanya dapat memaksimalkan perhatian siswa, tetapi juga kedalaman pengertian mereka. Dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk merenung, maka sebagai guru kita telah membantu mereka mendirikan pengertian konseptual yang lebih mendalam, membangun kaitan yang lebih kuat, dan lebih banyak lagi menekankan proses belajar. 
            Bagaimana cara melaksanakan tugas kritis ini? Buatlah agar yang tidak tampak menjadi tampak. Dengan mengasah pikiran, guru membuat siswa sadar akan banyaknya inter-asosiasi yang terjadi dalam benak mereka (Caine dan Caine, 1997). Setelah hal-hal ini disadari atau kelihatan, maka pengertian yang lebih besar dan hubungan yang lebih kuat akan menjadi mungkin.
            Sebagai guru yang postmodern, sebaiknya mulai menterampilkan diri untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan semacam itu agar dapat memberikan prasarana yang mantap untuk memperkaya siswa saat belajar dan dapat Membantu siswa dalam membuat pemahaman yang tidak terlihat menjadi terlihat. Tentu saja, setelah menanyakan hal-hal seperti itu, lalu membiarkannya menjadi tidak terjawab. Pada kesempatan berikutnya, tanyakan tentang informasi apa yang telah mereka dapatkan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tumbuhkan rasa keingintahuan mereka. Jika mereka kelihatan kebingungan mencari sumber informasi, tunjukkan kepada mereka ke mana mereka harus mencari informasi yang mereka inginkan dan dampingi mereka selama pencarian. Mendampingi di sini maksudnya tidak hanya berada di sisi mereka dan hanya mengamati atau memperhatikan mereka saja, tetapi ikut serta dalam pencarian mereka, sehingga guru dapat segera memberikan pertanyaan-pertanyaan baru yang mengarahkan mereka agar sampai pada kesimpulan mereka.
            Apakah prosesnya kemudian selesai ketika akhirnya mereka sampai pada kesimpulan mereka masing-masing? Belum. Jika sebagai guru kita merasa kelelahan mengikuti pencarian mereka, maka mereka juga mengalami kelelahan yang sama bahkan mungkin lebih banyak lagi karena ditambah dengan kebingungan mereka. Jadi ketika akhirnya mereka sampai pada suatu kesimpulan yang mereka yakini kebenarannya setelah mempertanyakan banyak hal, jangan berhenti sampai di situ saja tetapi rayakanlah, beri mereka pujian yang tulus dari dalam hati dan kagumi mereka.
            Masalahnya akan terasa berbeda jika dengan sibuknya siswa mencari informasi, guru mengambil kesempatan untuk beristirahat dari proses tersebut dengan cara duduk di meja guru dan mulai mengerjakan tugasnya yang lain, misalnya mengkoreksi nilai ulangan minggu kemarin. Meskipun kelihatannya guru tidak bersenang-senang atau menganggur, tetapi itu dapat diartikan sebagai salah satu bentuk istirahat dari suatu proses belajar. Jika hal ini terjadi akan sangat berbahaya karena siswa dapat saja tersesat dalam pencarian mereka. Dan jika hal itu terjadi, guru akan kesulitan untuk menuntun mereka kembali ke jalan yang benar karena guru tidak tahu jalan mana yang mereka pilih.
            Pertanyaannya adalah, tindakan apa yang mendukung sebuah komitmen untuk pendidikan menurut sudut pandang dari masing-masing guru. Kegiatan pengajaran dan kegiatan belajar kita sebagai guru hendaknya menunjukkan perjuangan seutuhnya dalam meraih kemajuan dan perbaikan. Suatu pemikiran yang menginginkan kita (guru) mempertahankan kegiatan pendidikan tradisional (guru bertanya, siswa menjawab) kelihatannya sudah tidak mungkin dilanjutkan. Kegiatan belajar di jaman posmodern ini harus dibawa ke arah kegiatan pendidikan yang baru (guru bertanya, SISWA MEMPERTANYAKAN PERTANYAAN GURU).
            Jika kegiatan belajar telah berhasil membuat siswa terampil dalam mencurigai atau mempertanyakan segala sesuatu, maka sebagai guru Anda akan terkejut dengan pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba diajukan oleh siswa yang mungkin tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya, seperti: “Bu, bisakah matahari diganti dengan lampu neon?”
            Pertanyaannya adalah: apakah Anda sebagai guru sudah menjadi guru yang postmodern?

Guru yang Postmodern (1)



Dalam era sistem Makro yang diwarnai oleh Postmodern ini, pendidikan bagi para siswa harus berorientasi pada pengembangan kemampuan siswa untuk membuat penilaian dan keputusan (judgement) sendiri secara tepat dan cepat. Dengan perkataan lain, siswa harus dididik untuk menilai sendiri yang mana yang benar atau salah, baik atau tidak baik, indah atau jelek dan atas dasar itu ia memutuskan perbuatan mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar siswa merasa yakin bahwa keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang baik?

Sesuai dengan ciri postmodern, guru sebaiknya terampil dalam menumbuhkan sikap keragu-raguan terhadap ilmu pengetahuan yang sedang diajarkannya. Caranya bukan dengan menakut-nakuti siswa sehingga mereka bahkan tidak punya keberanian untuk melangkah, tetapi dengan cara membuat mereka lebih terampil dan berani mempertanyakan segala sesuatu yang ada pada realita hidup mereka. Sebagai guru postmodern, kita tidak perlu merasa khawatir dengan pertanyaan para siswa, karena semua pertanyaan yang mengarah pada pertanyaan postmodern tidak memerlukan jawaban dalam seketika. Dan sampai kapan jawaban itu akan muncul? Tidak pernah ada batasan waktunya.
Hal ini akan sangat sulit dilakukan, jika guru masih mempertahankan tradisi lama dalam mendidik. Apalagi kalau kemampuan untuk menjawab pertanyaan menjadi arogansi sang guru karena ingin dianggap serba tahu. Selain merugikan para siswa, guru yang seperti itu akan sangat menderita di jaman postmodern ini di mana guru tidak lagi dianggap yang serba tahu.
       Jadi, seorang guru yang postmodern sebaiknya tidak lagi menuntut jawaban jika mengajukan pertanyaan, tetapi juga bukan berarti tidak menuntut apa-apa. Pertanyaan yang diajukan oleh seorang guru yang postmodern sebaiknya dapat menimbulkan banyak pertanyaan di benak para siswa, yang mengarahkan mereka pada realita yang ada di sekitar mereka. Bagaimana aplikasinya pada Pendidikan Matematika? (Bersambung)

Sabtu, 26 November 2011

Hubungan Karakter Guru dengan Kecemasan Matematika

Dari hasil penelitian yang saya lakukan (Kuntoro, 2007), ketiga dimensi dari karakteristik guru yang efektif ini memiliki korelasi yang sangat signifikan (dengan derajat kepercayaan < .01) dengan kecemasan matematika dan ketiga dimensinya (kecemasan pada pelajaran matematika, kecemasan pada tes matematika, dan kecemasan pada tugas matematika). Namun ada dua sub dimensi dari karakteristik guru efektif yang tidak memiliki korelasi sama sekali dengan kecemasan matematika maupun dimensi-dimensinya, yaitu: guru yang hangat dan humoris (dimensi 1) serta guru yang cekatan (dimensi 3). Dari karakteristik guru efektif yang memiliki korelasi tersebut juga tidak semuanya yang benar-benar memiliki kontribusi terhadap kecemasan matematika dan ketiga dimensinya. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada diagram berikut:
Seperti yang dapat kita lihat bersama, yang memiliki kontribusi terhadap kecemasan matematika adalah karakter guru sebagai berikut: Dimensi 1, yaitu guru yang memiliki pribadi yang memotivasi (guru yang memiliki antusiasme dan kredibilitas yang tinggi). Dimensi 3, yaitu guru yang profesional (terlihat melalui karakter guru yang 'knowledgeable'). Sedangkan untuk dimensi 2, yaitu guru yang berorientasi pada keberhasilan sama sekali tidak memiliki kontribusi pada kecemasan matematika siswa), demikian pula sub dimensinya.
Jadi, guru yang hangat dan humoris pada dimensi 1 dari karakteristik guru yang efektif ini sama sekali tidak memiliki hubungan dengan kecemasan matematika maupun ketiga dimensi dari kecemasan matematika. Artinya guru matematika tidak harus pandai melucu di depan kelas atau terlalu berusaha untuk membuat kelas matematika menjadi kelas yang penuh gelak tawa dan hiruk pikuk karena semua itu tidak ada hubungannya dengan kecemasan matematika dan hanya akan membuat kacau kelas.

Sebaliknya guru yang bersikap profesional dan menunjukkan bahwa ia menguasai bidangnya (knowledgeable) dapat mereduksi kecemasan matematika. 'Knowledgeable' merupakan salah satu sub dimensi dari profesionalitas guru. 'Knowledgeable' yang dimaksud di sini adalah kemampuan guru dalam mengkombinasikan antara pengetahuan tentang materi pelajaran matematika dengan pengetahuannya tentang pengajaran dan pengetahuannya tentang kondisi para siswanya agar dapat mengimplementasikan pengajaran yang efektif bagi setiap siswa. Semakin tinggi siswa menganggap guru matematikanya 'knowledgeable', maka kecemasan matematika-nya semakin rendah. Dapat dikatakan pula, bahwa semakin tinggi profesionalitas guru matematika, maka semakin rendah tingkat kecemasan matematika siswanya.

Selain itu, tentu saja motivasi juga penting dalam mengantisipasi gejala kecemasan matematika. Hal ini terlihat melalui karakter guru yang antusias terhadap pelajaran matematika. Selain yang telah saya tuliskan dalam artikel sebelumnya, antusiasme ini memiliki dua dimensi penting, yaitu: (1) menunjukkan perhatian dan mempunyai keterlibatan dengan bahan mata pelajaran yang sedang diajarkannya, (2) mempunyai dinamisme yang kuat dan dinamisme secara fisik. Semakin tinggi siswa dapat merasakan antusiasme guru matematikanya, maka akan semakin rendah tingkat kecemasan matematikanya. Sedangkan untuk karakter guru yang dapat dipercaya ditunjukkan oleh guru yang memliki kredibilitas yang tinggi seperti yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya (Karakteristik Guru yang Efektif dimensi 1). Semakin tinggi kredibilitas seorang guru matematika, maka semakin rendah tingkat kecemasan matematika siswanya pada pelajaran matematika.

Jadi, kehangatan dan rasa humor yang dimiliki oleh guru matematika mungkin membuat guru tersebut menjadi seorang guru yang menyenangkan, namun tidak dapat mengurangi rasa cemas siswa terhadap matematika selama guru tersebut tidak profesional atau kurang memiliki kredibilitas. Sedangkan guru matematika yang galak mungkin memang menakutkan, namun selama guru tersebut memiliki profesionalitas yang tinggi, maka guru tersebut pasti memiliki alasan yang rasional utnuk menjadi galak. Misalnya, untuk mendidik siswa agar tetap disiplin dan konsisten dan menanamkan prinsip-prinsip hidup yang teratur kadang-kadang membutuhkan ketegasan yang sering menjadi terlihat galak. Lalu, bagaimana hubungan karakteristik guru yang efektif ini dengan perfeksionisme siswa? Semoga hal tersebut akan menjadi jelas pada artikel berikutnya.

Daftar Pustaka:

Kuntoro, Martuti, 2007. Kontribusi Perfeksionisme Siswa, Dan Persepsi Siswa Terhadap Pola Asuh Orang Tua Siswa dan Karakteristik Guru Pada Kecemasan Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis: Universitas Indonesia - Depok.

Jumat, 18 November 2011

Karakteristik Guru yang Efektif (Dimensi 3)

Selain kedua dimensi yang telah dibahas sebelumnya, guru yang efektif menurut Cruickshank, Bainer dan Metcalf (1995) juga memiliki sikap yang profesional. Dalam kehidupan sehari-hari, guru yang memiliki sikap profesional dapat kita kenali melalui tiga karakter berikut:

Praktis dan Cekatan. Guru yang praktis dan cekatan selalu fokus pada usaha mereka membantu para siswa mencapai tujuan belajarnya (goal-oriented), menghargai proses belajar dan menunjukkan kepada para siswa melalui kata-kata dan tindakannya (serius), merencanakan dan melaksanakan pengajaran dengan praktis, cermat, dan pasti. Guru dalam kategori ini juga mengelola kelas untuk mencapai tujuan dan meminimalkan gangguan (organized).

Dapat Menyesuaikan Diri dan Fleksibel. Pada saat guru menyadari bahwa siswa tidak memahami penjelasannya atau menyadari bahwa kegiatan pengajaran yang telah direncanakannya tidak berjalan dengan efektif, guru yang fleksibel mampu segera menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi kelas. Peka terhadap kebingungan siswa, rasa frustasi atau rasa cemas siswa, atau kebosanan siswa yang disampaikan secara non-verbal.

Suatu hari, ketika saya sedang menjelaskan tentang persamaan garis, seorang siswa mengangkat tangannya hendak bertanya. Setelah diijinkan untuk bertanya, inilah pertanyaannya, "Bu, apakah matahari bisa diganti dengan neon?", seketika itu juga gelak tawa menggelegar memenuhi kelas. Perlu beberapa detik untuk mengkaji apa yang sebenarnya sedang terjadi? Melihat siswa yang bertanya mulai mengerutkan keningnya dan mengeraskan bibirnya, saya yang awalnya kesal karena pertanyaannya diluar topik pembicaraan saat itu, segera sadar bahwa ada yang lebih penting daripada melanjutkan penjelasan tentang persamaan garis. Rupanya, siswa tersebut sudah melontarkan pertanyaan yang sama pada pelajaran Fisika, dan bukannya mengarahkan pada unsur-unsur yang dimiliki matahari atau memotivasi siswa tersebut untuk melakukan observasi lebih dalam, guru Fisikanya malah mengolok-oloknya dengan menjawab, "oh, tidak bisa. Matahari bisanya diganti dengan Ramayana atau Robinson (nama depertement store yang cukup terkenal pada saat itu)", sehingga akhirnya dia menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Kalau saya boleh mengatakan, bahwa seorang calon penemu dari Indonesia telah terbunuh oleh jawaban guru Fisika tersebut saat itu. Pelajaran matematika hari itu yang diawali dengan pembahasan tentang persamaan garis, diakhiri dengan pembahasan tentang ultraviolet.

Menguasai Bidangnya, yang dimaksud dengan menguasai bidangnya adalah tidak hanya perlu menghitung dengan tepat, tetapi juga perlu mengetahui bagaimana menggunakan gambar atau diagram untuk menggambarkan konsep matematika dan proses matematika kepada siswa. Melengkapi siswa dengan penjelasan tentang aturan-aturan dan langkah-langkah berpikir dalam matematika termasuk tentang bukti-bukti terbentuknya teorema dari suatu perhitungan, tidak hanya memberikan rumus-rumus untuk dihafal, namun membuat siswa menangkap konsepnya sehingga tanpa rumus pun siswa masih dapat menyelesaikan soal berdasarkan konsep yang ditangkapnya. Menganalisa penyelesaian dan penjelasan siswa, termasuk di dalamnya menginterpretasikan kalimat dan solusi siswa.


Daftar Pustaka:

Cruickshank, Donald R., Bainer, Deborah L., Metcalf, Kim K. (1995). The Act of Teaching.USA: McGraw-Hill, Inc.

Senin, 14 November 2011

Karakteristik Guru yang Efektif (Dimensi 2)

Selain memiliki kepribadian yang memotivasi, guru yang efektif juga berorientasi pada keberhasilan. Guru yang berorientasi pada keberhasilan ini menurut Cruickshank, Bainer dan Metcalf (1995) memiliki keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki oleh para siswanya dan yakin pula terhadap kemampuannya untuk membantu siswa mencapai keberhasilan mereka. Lebih jelasnya akan diuraikan menjadi dua hal berikut:

Memiliki Keyakinan yang Tinggi terhadap Keberhasilan Siswa. Karakteristik guru yang termasuk golongan ini dapat dijelaskan melalui ciri-ciri tertentu. Guru dikatakan memiliki keyakinan yang tinggi terhadap keberhasilan siswa adalah guru yang mencoba untuk menunjukkan harapannya kepada siswa dan memberikan bantuannya agar para siswa dapat memenuhi harapan tersebut, menentukan tujuan yang realistis untuk para siswanya, menjelaskan tujuan tersebut dengan jelas, dan berusaha untuk memberikan kesempatan kepada masing-masing untuk mencapai keberhasilannya. Misalnya, memberikan waktu kepada siswa untuk membuat pertimbangan sebelum merespon, kemudian membantu siswa untuk memodifikasi respon yang tidak sesuai.

Memiliki Kemampuan memberikan dorongan dan bantuan. Seorang guru dapat menunjukkan dorongan dan dukungannya kepada siswa dengan cara: tidak hanya menuntut kesempurnaan, namun juga mampu menyadari adanya kemajuan pada diri siswa dan mencatatnya. Membantu siswa belajar menyelesaikan masalahnya sendiri dan belajar mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri. Memberikan beberapa alternatif cara untuk menyelesaikan tugas dan mengijinkan para siswa untuk memilih.

Memberikan beberapa alternatif cara untuk menyelesaikan tugas tersebut kadang-kadang diartikan sama dengan cara mengerjakan soal matematika. Perlu dibedakan bahwa tugas matematika dan soal matematika bisa merupakan dua hal yang berbeda. Karena tidak semua soal matematika dapat dikerjakan dengan banyak cara, terutama untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), dimana konsep matematika yang dipelajari masih sangat sederhana. Memang, banyak jalan menuju Roma, itu karena Roma berada jauh dari negara kita. Tetapi jika kita hanya ingin pergi ke tetangga sebelah rumah, jalannya kan hanya satu saja, dan jika hal yang sederhana seperti itu diberi kebebasan, anak-anak bisa pergi ke sebelah rumah dengan cara loncat pagar….!! Hal ini akan saya bahas dalam artikel tersendiri lebih dalam lagi.


Daftar Pustaka:

Cruickshank, Donald R., Bainer, Deborah L., Metcalf, Kim K. (1995). The Act of Teaching.USA: McGraw-Hill, Inc.

Sabtu, 12 November 2011

Karakteristik Guru yang Efektif (Dimensi 1)

Menurut Cruickshank, Bainer dan Metcalf (1995), salah satu karakteristik yang dimiliki oleh guru yang efektif adalah memiliki kepribadian yang memotivasi. Kepribadian yang memotivasi ini digolongkan menjadi tiga, yaitu:

Memiliki Antusiasme, seorang guru dikatakan antusias jika ia mempunyai perhatian dan keterlibatan dengan bahan mata pelajaran. Contohnya, ketika guru memberikan latihan soal, guru tidak menyibukkan diri dengan hal lain (membuat Lesson Plan, atau mengkoreksi ulangan), agar tidak terlambat memberikan semangat pada siswa yang mulai menurun ketahanannya. Berikut adalah karakteristik guru yang antusias menurut Cruikshank, Bainer dan Metcalf (1995): menunjukkan rasa percaya diri dan ramah, menetapkan dan menyampaikan hubungan antara mata pelajaran dengan minat dan kebutuhan para siswanya, menggunakan animasi gerakan untuk menekankan atau menguatkan maksudnya, kreatif dan banyak pendekatan dalam pengajaran mereka, penuh pertentangan dan dramatik ketika mereka mengajar, mempertahankan kontak mata dengan seluruh siswa, menggunakan variasi suara, dan berhenti sebentar untuk membuat penyampaian lebih menarik, mempunyai keyakinan bahwa siswa dapat menyelesaikan tugasnya dengan berhasil, mempertahankan langkah pelajaran yang cepat.

Hangat dan Humoris, yang ditunjukkan melalui hubungan yang positif dengan siswa dan memberikan dukungannya terhadap mereka. Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh guru untuk menunjukkan kehangatan bagi para siswa, antara lain: menyapa para siswa dengan namanya. Ketika bertemu di luar kelas, memberikan komentar tentang prestasi yang telah dicapai atau tentang penampilan mereka, atau tentang aspek lainnya dalam kehidupan mereka. Mempunyai sense of humor, dalam arti bahwa mereka dapat mentertawakan diri mereka sendiri, sering tersenyum, menjadi diri sendiri, menyampaikan pendapatnya tentang apa yang disukai dan apa yang tidak disukainya, mendekati siswa dengan cara yang tidak mengancam secara fisik, tetapi untuk menunjukkan rasa percaya dan terbuka terhadap siswa, menyediakan waktu bagi semua siswa untuk memperdalam materi pelajaran dan untuk mencapai keberhasilan. Menunjukkan minat, perhatian dan penerimaan terhadap siswa, namun menghindari usaha untuk menjadi salah satu dari mereka, menurunkan standar pencapaian mereka, atau bertingkah laku seperti mereka.

Memiliki Kredibilitas, seorang guru dipercaya memiliki kredibilitas jika memperhatikan tiga unsur penting berikut: (1) konsisten atau memiliki kesesuaian antara instruksi atau pesan yang disampaikan kepada siswa dengan perilaku guru tersebut. Misalnya, guru meminta siswa mengerjakan PR sebaiknya guru juga membahas PR tersebut dan memberi nilai, atau siswa dilarang mengucapkan kata-kata yang negatif sebaiknya guru juga tidak mengucapkan kata-kata yang negatif, atau siswa dilarang menggunakan handphone di kelas sebaiknya guru juga tidak menggunakan handphone di kelas. (2) isi dari pesan yang disampaikan juga penting untuk diperhatikan (pertimbangan dari pesan tersebut sebaiknya demi kebaikan siswa, bukan demi kemudahan guru). (3) perilaku guru yang terbuka, jujur dan adil juga merupakan unsur terpenting karena rasa percaya siswa merupakan hasil dari keterbukaan, kejujuran dan keadilan yang ditunjukkan oleh guru dalam membuat kesepakatan dengan para siswa.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa mempertahankan langkah yang cepat merupakan salah satu karakter guru yang antusias. Hal ini bukan berarti guru matematika perlu mengingatkan setiap menit pada saat ulangan berlangsung, namun juga bukan berarti bahwa guru matematika tidak boleh menyinggung soal waktu sama sekali. Siswa sebaiknya tetap diajarkan memperhatikan waktu ketika mengerjakan latihan soal matematika, agar memiliki management waktu yang baik ketika ulangan. Misalnya, guru telah menetapkan bahwa 10 soal latihan dikerjakan dalam waktu 30 menit, guru wajib mengingatkan atau sekedar memperhatikan bahwa dalam 10 menit pertama, siswa sudah menyelesaikan paling tidak 3 buah soal. Namun bukan hanya sekedar mengingatkan tanpa berbuat sesuatu. Tujuannya adalah, jika ada siswa yang belum menyelesaikan 3 soal dalam 10 menit pertama tersebut, guru dapat segera memberikan bantuan seperlunya karena kemungkinan siswa tersebut mengalami kesulitan, sehingga masalahnya dapat segera teratasi dan siswa tersebut tidak terlalu tertinggal dan tidak merasa sendirian.

Daftar Pustaka:

Cruickshank, Donald R., Bainer, Deborah L., Metcalf, Kim K. (1995). The Act of Teaching.USA: McGraw-Hill, Inc.

Guru Matematika Galak Sebagai Penyebab Kecemasan Matematika?....Itu Pandangan yang Kuno….!!

Jika masyarakat masih menganggap bahwa Guru Matematika itu galak, mereka masih hidup di masa lalu. Di jaman Bimbel dan serba instant seperti sekarang ini, guru matematika yang galak sudah termasuk minoritas. Apalagi di jaman sekarang ini sudah bermunculan sekolah-sekolah baru yang bahkan mensyaratkan penampilan (yang cantik, yang fashionable) sebagai salah satu syarat 'tidak tertulis' untuk menjadi guru di sekolahnya agar kelihatan modern. Sedangkan untuk sekolah yang sudah lama berdiri pun juga sudah berbenah diri, dengan cara mengundang designer terkenal dan memberikan kursus kecantikan sebagai salah satu pelatihan guru-guru yang sudah tergolong senior itu, supaya tidak kelihatan menyeramkan. Karena itu, banyak guru matematika yang telah memperbaiki diri jika ia ingin tetap eksis mengajar, sehingga lebih cocok jika disebut sebagai jaman 'guru matematika yang baik'. Baik dalam arti yang sesungguhnya, yaitu: tidak pernah marah, tidak pernah menghukum, lemah lembut, selalu tersenyum, tidak pernah bersuara keras sehingga jika siswanya kocar-kacir di kelas pun hanya didiamkan saja menunggu sampai mereka sadar sendiri dan duduk, karena dilarang untuk bersuara keras terutama untuk guru matematika.

Anehnya, walaupun guru matematika yang galak dan menyeramkan sudah semakin sedikit, namun prestasi belajar matematika masih tetap saja rendah dan kecemasan dalam pelajaran matematika tetap saja nampak dan sepertinya belum dapat terselesaikan secara tuntas. Kemungkinan hal ini disebabkan karena kita telah salah mengenali ciri-ciri kecemasan yang nampak pada pelajaran matematika. Dari kenyataan ini saja seharusnya sudah dapat dikritisi, bahwa mungkin saja penyebab kecemasan itu bukan kegalakan guru matematika tersebut, namun unsur lain atau kata-kata yang muncul saat seorang guru marah lah yang mungkin tidak sesuai dengan karakteristik siswa, yang menyebabkan sikap apatis siswa dan kemudian menyebabkan prestasi belajar siswa menurun. Karena pada dasarnya, setiap anak ingin tampil sempurna bagi orang-orang di sekitarnya, baik itu guru, orang tuanya atau bahkan teman sebayanya.

Peran guru dalam dunia pendidikan adalah untuk membantu para siswa agar mereka dapat memiliki pengalaman yang berharga, agar siswa dapat mengembangkan bakat dan kemampuan yang dimilikinya, agar siswa mampu menghadapi masalah-masalah yang ada dalam dirinya sendiri, dan agar siswa mampu menerima dirinya sendiri secara utuh. Untuk tugasnya itu guru perlu mengenal dan memahami para siswanya agar dapat memberikan perlakuan yang tepat kepada masing-masing siswanya, namun sebelum guru dapat mengenal dan memahami siswa, guru harus berusaha dan bekerja keras untuk mengenal dan memahami dirinya sendiri, karena seseorang yang mengingkari dan tidak mampu mengatasi keadaan emosi dirinya sendiri kemungkinan besar tidak mampu menghargai dan berhubungan dengan perasaan orang lain (Ryan & Cooper, 1984). Hal ini tidak selalu muncul dalam bentuk kemarahan saja, namun juga dapat muncul dalam bentuk sikap yang memaklumi ketidakmampuan siswa. Biasanya muncul pada guru yang juga suka mengasihani dirinya sendiri atas kemalangan yang menimpanya.

Jika ingin mengubah karakteristik guru matematika, sebaiknya kita tahu persis apa yang harus diubah. Ibarat seorang pelukis wajah, jika bentuk mulutnya yang belum sesuai dengan unsur-unsur wajahnya (hidung, mata, telinga, dll.), kita hanya perlu mengubah mulutnya saja bukan mengubah unsur-unsur wajahnya yang banyak itu agar sesuai dengan mulutnya. Guru matematika juga manusia, masing-masing memiliki keunikannya, maka perbaikannya juga tidak dapat disama ratakan. jika disama ratakan, akibatnya bisa menjadi salah kaprah. Dalam penelitian yang saya lakukan (Kuntoro, 2007), ingin mengemukakan karakteristik guru yang efektif dari Cruickshank, Bainer, dan Metcalf (1995), dan menggunakannya sebagai tolak ukur untuk melihat dimensi-dimensi mana yang memiliki korelasi dengan kecemasan matematika dan perfeksionisme siswa, serta dimensi-dimensi mana dari karakteristik guru efektif ini yang memiliki kontribusi pada kecemasan matematika dan perfeksionisme siswa. Sebelum kita sampai pada hasil penelitian tersebut, mari kita lihat dahulu dimensi-dimensi karakteristik guru efektif menurut Cruickshank, Bainer, dan Metcalf (1995) pada artikel berikut yang berjudul: Karakteristik Guru Efektif.


Daftar Pustaka:

Cruickshank, Donald R.; Bainer, Deborah L.; Metcalf, Kim K. (1995). The Act of Teaching.USA: McGraw-Hill, Inc.

Kuntoro, Martuti, 2007. Kontribusi Perfeksionisme Siswa, Dan Persepsi Siswa Terhadap Pola Asuh Orang Tua Siswa dan Karakteristik Guru Pada Kecemasan Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis: Universitas Indonesia - Depok.

Ryan, K.; dan Cooper, James M. (1984). Those Who Can Teach, 4th. edition. Boston: Houghton Mifflin Company.