Sabtu, 26 November 2011

Hubungan Karakter Guru dengan Kecemasan Matematika

Dari hasil penelitian yang saya lakukan (Kuntoro, 2007), ketiga dimensi dari karakteristik guru yang efektif ini memiliki korelasi yang sangat signifikan (dengan derajat kepercayaan < .01) dengan kecemasan matematika dan ketiga dimensinya (kecemasan pada pelajaran matematika, kecemasan pada tes matematika, dan kecemasan pada tugas matematika). Namun ada dua sub dimensi dari karakteristik guru efektif yang tidak memiliki korelasi sama sekali dengan kecemasan matematika maupun dimensi-dimensinya, yaitu: guru yang hangat dan humoris (dimensi 1) serta guru yang cekatan (dimensi 3). Dari karakteristik guru efektif yang memiliki korelasi tersebut juga tidak semuanya yang benar-benar memiliki kontribusi terhadap kecemasan matematika dan ketiga dimensinya. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada diagram berikut:
Seperti yang dapat kita lihat bersama, yang memiliki kontribusi terhadap kecemasan matematika adalah karakter guru sebagai berikut: Dimensi 1, yaitu guru yang memiliki pribadi yang memotivasi (guru yang memiliki antusiasme dan kredibilitas yang tinggi). Dimensi 3, yaitu guru yang profesional (terlihat melalui karakter guru yang 'knowledgeable'). Sedangkan untuk dimensi 2, yaitu guru yang berorientasi pada keberhasilan sama sekali tidak memiliki kontribusi pada kecemasan matematika siswa), demikian pula sub dimensinya.
Jadi, guru yang hangat dan humoris pada dimensi 1 dari karakteristik guru yang efektif ini sama sekali tidak memiliki hubungan dengan kecemasan matematika maupun ketiga dimensi dari kecemasan matematika. Artinya guru matematika tidak harus pandai melucu di depan kelas atau terlalu berusaha untuk membuat kelas matematika menjadi kelas yang penuh gelak tawa dan hiruk pikuk karena semua itu tidak ada hubungannya dengan kecemasan matematika dan hanya akan membuat kacau kelas.

Sebaliknya guru yang bersikap profesional dan menunjukkan bahwa ia menguasai bidangnya (knowledgeable) dapat mereduksi kecemasan matematika. 'Knowledgeable' merupakan salah satu sub dimensi dari profesionalitas guru. 'Knowledgeable' yang dimaksud di sini adalah kemampuan guru dalam mengkombinasikan antara pengetahuan tentang materi pelajaran matematika dengan pengetahuannya tentang pengajaran dan pengetahuannya tentang kondisi para siswanya agar dapat mengimplementasikan pengajaran yang efektif bagi setiap siswa. Semakin tinggi siswa menganggap guru matematikanya 'knowledgeable', maka kecemasan matematika-nya semakin rendah. Dapat dikatakan pula, bahwa semakin tinggi profesionalitas guru matematika, maka semakin rendah tingkat kecemasan matematika siswanya.

Selain itu, tentu saja motivasi juga penting dalam mengantisipasi gejala kecemasan matematika. Hal ini terlihat melalui karakter guru yang antusias terhadap pelajaran matematika. Selain yang telah saya tuliskan dalam artikel sebelumnya, antusiasme ini memiliki dua dimensi penting, yaitu: (1) menunjukkan perhatian dan mempunyai keterlibatan dengan bahan mata pelajaran yang sedang diajarkannya, (2) mempunyai dinamisme yang kuat dan dinamisme secara fisik. Semakin tinggi siswa dapat merasakan antusiasme guru matematikanya, maka akan semakin rendah tingkat kecemasan matematikanya. Sedangkan untuk karakter guru yang dapat dipercaya ditunjukkan oleh guru yang memliki kredibilitas yang tinggi seperti yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya (Karakteristik Guru yang Efektif dimensi 1). Semakin tinggi kredibilitas seorang guru matematika, maka semakin rendah tingkat kecemasan matematika siswanya pada pelajaran matematika.

Jadi, kehangatan dan rasa humor yang dimiliki oleh guru matematika mungkin membuat guru tersebut menjadi seorang guru yang menyenangkan, namun tidak dapat mengurangi rasa cemas siswa terhadap matematika selama guru tersebut tidak profesional atau kurang memiliki kredibilitas. Sedangkan guru matematika yang galak mungkin memang menakutkan, namun selama guru tersebut memiliki profesionalitas yang tinggi, maka guru tersebut pasti memiliki alasan yang rasional utnuk menjadi galak. Misalnya, untuk mendidik siswa agar tetap disiplin dan konsisten dan menanamkan prinsip-prinsip hidup yang teratur kadang-kadang membutuhkan ketegasan yang sering menjadi terlihat galak. Lalu, bagaimana hubungan karakteristik guru yang efektif ini dengan perfeksionisme siswa? Semoga hal tersebut akan menjadi jelas pada artikel berikutnya.

Daftar Pustaka:

Kuntoro, Martuti, 2007. Kontribusi Perfeksionisme Siswa, Dan Persepsi Siswa Terhadap Pola Asuh Orang Tua Siswa dan Karakteristik Guru Pada Kecemasan Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis: Universitas Indonesia - Depok.

Jumat, 18 November 2011

Karakteristik Guru yang Efektif (Dimensi 3)

Selain kedua dimensi yang telah dibahas sebelumnya, guru yang efektif menurut Cruickshank, Bainer dan Metcalf (1995) juga memiliki sikap yang profesional. Dalam kehidupan sehari-hari, guru yang memiliki sikap profesional dapat kita kenali melalui tiga karakter berikut:

Praktis dan Cekatan. Guru yang praktis dan cekatan selalu fokus pada usaha mereka membantu para siswa mencapai tujuan belajarnya (goal-oriented), menghargai proses belajar dan menunjukkan kepada para siswa melalui kata-kata dan tindakannya (serius), merencanakan dan melaksanakan pengajaran dengan praktis, cermat, dan pasti. Guru dalam kategori ini juga mengelola kelas untuk mencapai tujuan dan meminimalkan gangguan (organized).

Dapat Menyesuaikan Diri dan Fleksibel. Pada saat guru menyadari bahwa siswa tidak memahami penjelasannya atau menyadari bahwa kegiatan pengajaran yang telah direncanakannya tidak berjalan dengan efektif, guru yang fleksibel mampu segera menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi kelas. Peka terhadap kebingungan siswa, rasa frustasi atau rasa cemas siswa, atau kebosanan siswa yang disampaikan secara non-verbal.

Suatu hari, ketika saya sedang menjelaskan tentang persamaan garis, seorang siswa mengangkat tangannya hendak bertanya. Setelah diijinkan untuk bertanya, inilah pertanyaannya, "Bu, apakah matahari bisa diganti dengan neon?", seketika itu juga gelak tawa menggelegar memenuhi kelas. Perlu beberapa detik untuk mengkaji apa yang sebenarnya sedang terjadi? Melihat siswa yang bertanya mulai mengerutkan keningnya dan mengeraskan bibirnya, saya yang awalnya kesal karena pertanyaannya diluar topik pembicaraan saat itu, segera sadar bahwa ada yang lebih penting daripada melanjutkan penjelasan tentang persamaan garis. Rupanya, siswa tersebut sudah melontarkan pertanyaan yang sama pada pelajaran Fisika, dan bukannya mengarahkan pada unsur-unsur yang dimiliki matahari atau memotivasi siswa tersebut untuk melakukan observasi lebih dalam, guru Fisikanya malah mengolok-oloknya dengan menjawab, "oh, tidak bisa. Matahari bisanya diganti dengan Ramayana atau Robinson (nama depertement store yang cukup terkenal pada saat itu)", sehingga akhirnya dia menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Kalau saya boleh mengatakan, bahwa seorang calon penemu dari Indonesia telah terbunuh oleh jawaban guru Fisika tersebut saat itu. Pelajaran matematika hari itu yang diawali dengan pembahasan tentang persamaan garis, diakhiri dengan pembahasan tentang ultraviolet.

Menguasai Bidangnya, yang dimaksud dengan menguasai bidangnya adalah tidak hanya perlu menghitung dengan tepat, tetapi juga perlu mengetahui bagaimana menggunakan gambar atau diagram untuk menggambarkan konsep matematika dan proses matematika kepada siswa. Melengkapi siswa dengan penjelasan tentang aturan-aturan dan langkah-langkah berpikir dalam matematika termasuk tentang bukti-bukti terbentuknya teorema dari suatu perhitungan, tidak hanya memberikan rumus-rumus untuk dihafal, namun membuat siswa menangkap konsepnya sehingga tanpa rumus pun siswa masih dapat menyelesaikan soal berdasarkan konsep yang ditangkapnya. Menganalisa penyelesaian dan penjelasan siswa, termasuk di dalamnya menginterpretasikan kalimat dan solusi siswa.


Daftar Pustaka:

Cruickshank, Donald R., Bainer, Deborah L., Metcalf, Kim K. (1995). The Act of Teaching.USA: McGraw-Hill, Inc.

Senin, 14 November 2011

Karakteristik Guru yang Efektif (Dimensi 2)

Selain memiliki kepribadian yang memotivasi, guru yang efektif juga berorientasi pada keberhasilan. Guru yang berorientasi pada keberhasilan ini menurut Cruickshank, Bainer dan Metcalf (1995) memiliki keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki oleh para siswanya dan yakin pula terhadap kemampuannya untuk membantu siswa mencapai keberhasilan mereka. Lebih jelasnya akan diuraikan menjadi dua hal berikut:

Memiliki Keyakinan yang Tinggi terhadap Keberhasilan Siswa. Karakteristik guru yang termasuk golongan ini dapat dijelaskan melalui ciri-ciri tertentu. Guru dikatakan memiliki keyakinan yang tinggi terhadap keberhasilan siswa adalah guru yang mencoba untuk menunjukkan harapannya kepada siswa dan memberikan bantuannya agar para siswa dapat memenuhi harapan tersebut, menentukan tujuan yang realistis untuk para siswanya, menjelaskan tujuan tersebut dengan jelas, dan berusaha untuk memberikan kesempatan kepada masing-masing untuk mencapai keberhasilannya. Misalnya, memberikan waktu kepada siswa untuk membuat pertimbangan sebelum merespon, kemudian membantu siswa untuk memodifikasi respon yang tidak sesuai.

Memiliki Kemampuan memberikan dorongan dan bantuan. Seorang guru dapat menunjukkan dorongan dan dukungannya kepada siswa dengan cara: tidak hanya menuntut kesempurnaan, namun juga mampu menyadari adanya kemajuan pada diri siswa dan mencatatnya. Membantu siswa belajar menyelesaikan masalahnya sendiri dan belajar mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri. Memberikan beberapa alternatif cara untuk menyelesaikan tugas dan mengijinkan para siswa untuk memilih.

Memberikan beberapa alternatif cara untuk menyelesaikan tugas tersebut kadang-kadang diartikan sama dengan cara mengerjakan soal matematika. Perlu dibedakan bahwa tugas matematika dan soal matematika bisa merupakan dua hal yang berbeda. Karena tidak semua soal matematika dapat dikerjakan dengan banyak cara, terutama untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), dimana konsep matematika yang dipelajari masih sangat sederhana. Memang, banyak jalan menuju Roma, itu karena Roma berada jauh dari negara kita. Tetapi jika kita hanya ingin pergi ke tetangga sebelah rumah, jalannya kan hanya satu saja, dan jika hal yang sederhana seperti itu diberi kebebasan, anak-anak bisa pergi ke sebelah rumah dengan cara loncat pagar….!! Hal ini akan saya bahas dalam artikel tersendiri lebih dalam lagi.


Daftar Pustaka:

Cruickshank, Donald R., Bainer, Deborah L., Metcalf, Kim K. (1995). The Act of Teaching.USA: McGraw-Hill, Inc.

Sabtu, 12 November 2011

Karakteristik Guru yang Efektif (Dimensi 1)

Menurut Cruickshank, Bainer dan Metcalf (1995), salah satu karakteristik yang dimiliki oleh guru yang efektif adalah memiliki kepribadian yang memotivasi. Kepribadian yang memotivasi ini digolongkan menjadi tiga, yaitu:

Memiliki Antusiasme, seorang guru dikatakan antusias jika ia mempunyai perhatian dan keterlibatan dengan bahan mata pelajaran. Contohnya, ketika guru memberikan latihan soal, guru tidak menyibukkan diri dengan hal lain (membuat Lesson Plan, atau mengkoreksi ulangan), agar tidak terlambat memberikan semangat pada siswa yang mulai menurun ketahanannya. Berikut adalah karakteristik guru yang antusias menurut Cruikshank, Bainer dan Metcalf (1995): menunjukkan rasa percaya diri dan ramah, menetapkan dan menyampaikan hubungan antara mata pelajaran dengan minat dan kebutuhan para siswanya, menggunakan animasi gerakan untuk menekankan atau menguatkan maksudnya, kreatif dan banyak pendekatan dalam pengajaran mereka, penuh pertentangan dan dramatik ketika mereka mengajar, mempertahankan kontak mata dengan seluruh siswa, menggunakan variasi suara, dan berhenti sebentar untuk membuat penyampaian lebih menarik, mempunyai keyakinan bahwa siswa dapat menyelesaikan tugasnya dengan berhasil, mempertahankan langkah pelajaran yang cepat.

Hangat dan Humoris, yang ditunjukkan melalui hubungan yang positif dengan siswa dan memberikan dukungannya terhadap mereka. Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh guru untuk menunjukkan kehangatan bagi para siswa, antara lain: menyapa para siswa dengan namanya. Ketika bertemu di luar kelas, memberikan komentar tentang prestasi yang telah dicapai atau tentang penampilan mereka, atau tentang aspek lainnya dalam kehidupan mereka. Mempunyai sense of humor, dalam arti bahwa mereka dapat mentertawakan diri mereka sendiri, sering tersenyum, menjadi diri sendiri, menyampaikan pendapatnya tentang apa yang disukai dan apa yang tidak disukainya, mendekati siswa dengan cara yang tidak mengancam secara fisik, tetapi untuk menunjukkan rasa percaya dan terbuka terhadap siswa, menyediakan waktu bagi semua siswa untuk memperdalam materi pelajaran dan untuk mencapai keberhasilan. Menunjukkan minat, perhatian dan penerimaan terhadap siswa, namun menghindari usaha untuk menjadi salah satu dari mereka, menurunkan standar pencapaian mereka, atau bertingkah laku seperti mereka.

Memiliki Kredibilitas, seorang guru dipercaya memiliki kredibilitas jika memperhatikan tiga unsur penting berikut: (1) konsisten atau memiliki kesesuaian antara instruksi atau pesan yang disampaikan kepada siswa dengan perilaku guru tersebut. Misalnya, guru meminta siswa mengerjakan PR sebaiknya guru juga membahas PR tersebut dan memberi nilai, atau siswa dilarang mengucapkan kata-kata yang negatif sebaiknya guru juga tidak mengucapkan kata-kata yang negatif, atau siswa dilarang menggunakan handphone di kelas sebaiknya guru juga tidak menggunakan handphone di kelas. (2) isi dari pesan yang disampaikan juga penting untuk diperhatikan (pertimbangan dari pesan tersebut sebaiknya demi kebaikan siswa, bukan demi kemudahan guru). (3) perilaku guru yang terbuka, jujur dan adil juga merupakan unsur terpenting karena rasa percaya siswa merupakan hasil dari keterbukaan, kejujuran dan keadilan yang ditunjukkan oleh guru dalam membuat kesepakatan dengan para siswa.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa mempertahankan langkah yang cepat merupakan salah satu karakter guru yang antusias. Hal ini bukan berarti guru matematika perlu mengingatkan setiap menit pada saat ulangan berlangsung, namun juga bukan berarti bahwa guru matematika tidak boleh menyinggung soal waktu sama sekali. Siswa sebaiknya tetap diajarkan memperhatikan waktu ketika mengerjakan latihan soal matematika, agar memiliki management waktu yang baik ketika ulangan. Misalnya, guru telah menetapkan bahwa 10 soal latihan dikerjakan dalam waktu 30 menit, guru wajib mengingatkan atau sekedar memperhatikan bahwa dalam 10 menit pertama, siswa sudah menyelesaikan paling tidak 3 buah soal. Namun bukan hanya sekedar mengingatkan tanpa berbuat sesuatu. Tujuannya adalah, jika ada siswa yang belum menyelesaikan 3 soal dalam 10 menit pertama tersebut, guru dapat segera memberikan bantuan seperlunya karena kemungkinan siswa tersebut mengalami kesulitan, sehingga masalahnya dapat segera teratasi dan siswa tersebut tidak terlalu tertinggal dan tidak merasa sendirian.

Daftar Pustaka:

Cruickshank, Donald R., Bainer, Deborah L., Metcalf, Kim K. (1995). The Act of Teaching.USA: McGraw-Hill, Inc.

Guru Matematika Galak Sebagai Penyebab Kecemasan Matematika?....Itu Pandangan yang Kuno….!!

Jika masyarakat masih menganggap bahwa Guru Matematika itu galak, mereka masih hidup di masa lalu. Di jaman Bimbel dan serba instant seperti sekarang ini, guru matematika yang galak sudah termasuk minoritas. Apalagi di jaman sekarang ini sudah bermunculan sekolah-sekolah baru yang bahkan mensyaratkan penampilan (yang cantik, yang fashionable) sebagai salah satu syarat 'tidak tertulis' untuk menjadi guru di sekolahnya agar kelihatan modern. Sedangkan untuk sekolah yang sudah lama berdiri pun juga sudah berbenah diri, dengan cara mengundang designer terkenal dan memberikan kursus kecantikan sebagai salah satu pelatihan guru-guru yang sudah tergolong senior itu, supaya tidak kelihatan menyeramkan. Karena itu, banyak guru matematika yang telah memperbaiki diri jika ia ingin tetap eksis mengajar, sehingga lebih cocok jika disebut sebagai jaman 'guru matematika yang baik'. Baik dalam arti yang sesungguhnya, yaitu: tidak pernah marah, tidak pernah menghukum, lemah lembut, selalu tersenyum, tidak pernah bersuara keras sehingga jika siswanya kocar-kacir di kelas pun hanya didiamkan saja menunggu sampai mereka sadar sendiri dan duduk, karena dilarang untuk bersuara keras terutama untuk guru matematika.

Anehnya, walaupun guru matematika yang galak dan menyeramkan sudah semakin sedikit, namun prestasi belajar matematika masih tetap saja rendah dan kecemasan dalam pelajaran matematika tetap saja nampak dan sepertinya belum dapat terselesaikan secara tuntas. Kemungkinan hal ini disebabkan karena kita telah salah mengenali ciri-ciri kecemasan yang nampak pada pelajaran matematika. Dari kenyataan ini saja seharusnya sudah dapat dikritisi, bahwa mungkin saja penyebab kecemasan itu bukan kegalakan guru matematika tersebut, namun unsur lain atau kata-kata yang muncul saat seorang guru marah lah yang mungkin tidak sesuai dengan karakteristik siswa, yang menyebabkan sikap apatis siswa dan kemudian menyebabkan prestasi belajar siswa menurun. Karena pada dasarnya, setiap anak ingin tampil sempurna bagi orang-orang di sekitarnya, baik itu guru, orang tuanya atau bahkan teman sebayanya.

Peran guru dalam dunia pendidikan adalah untuk membantu para siswa agar mereka dapat memiliki pengalaman yang berharga, agar siswa dapat mengembangkan bakat dan kemampuan yang dimilikinya, agar siswa mampu menghadapi masalah-masalah yang ada dalam dirinya sendiri, dan agar siswa mampu menerima dirinya sendiri secara utuh. Untuk tugasnya itu guru perlu mengenal dan memahami para siswanya agar dapat memberikan perlakuan yang tepat kepada masing-masing siswanya, namun sebelum guru dapat mengenal dan memahami siswa, guru harus berusaha dan bekerja keras untuk mengenal dan memahami dirinya sendiri, karena seseorang yang mengingkari dan tidak mampu mengatasi keadaan emosi dirinya sendiri kemungkinan besar tidak mampu menghargai dan berhubungan dengan perasaan orang lain (Ryan & Cooper, 1984). Hal ini tidak selalu muncul dalam bentuk kemarahan saja, namun juga dapat muncul dalam bentuk sikap yang memaklumi ketidakmampuan siswa. Biasanya muncul pada guru yang juga suka mengasihani dirinya sendiri atas kemalangan yang menimpanya.

Jika ingin mengubah karakteristik guru matematika, sebaiknya kita tahu persis apa yang harus diubah. Ibarat seorang pelukis wajah, jika bentuk mulutnya yang belum sesuai dengan unsur-unsur wajahnya (hidung, mata, telinga, dll.), kita hanya perlu mengubah mulutnya saja bukan mengubah unsur-unsur wajahnya yang banyak itu agar sesuai dengan mulutnya. Guru matematika juga manusia, masing-masing memiliki keunikannya, maka perbaikannya juga tidak dapat disama ratakan. jika disama ratakan, akibatnya bisa menjadi salah kaprah. Dalam penelitian yang saya lakukan (Kuntoro, 2007), ingin mengemukakan karakteristik guru yang efektif dari Cruickshank, Bainer, dan Metcalf (1995), dan menggunakannya sebagai tolak ukur untuk melihat dimensi-dimensi mana yang memiliki korelasi dengan kecemasan matematika dan perfeksionisme siswa, serta dimensi-dimensi mana dari karakteristik guru efektif ini yang memiliki kontribusi pada kecemasan matematika dan perfeksionisme siswa. Sebelum kita sampai pada hasil penelitian tersebut, mari kita lihat dahulu dimensi-dimensi karakteristik guru efektif menurut Cruickshank, Bainer, dan Metcalf (1995) pada artikel berikut yang berjudul: Karakteristik Guru Efektif.


Daftar Pustaka:

Cruickshank, Donald R.; Bainer, Deborah L.; Metcalf, Kim K. (1995). The Act of Teaching.USA: McGraw-Hill, Inc.

Kuntoro, Martuti, 2007. Kontribusi Perfeksionisme Siswa, Dan Persepsi Siswa Terhadap Pola Asuh Orang Tua Siswa dan Karakteristik Guru Pada Kecemasan Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis: Universitas Indonesia - Depok.

Ryan, K.; dan Cooper, James M. (1984). Those Who Can Teach, 4th. edition. Boston: Houghton Mifflin Company.

Jumat, 28 Oktober 2011

Ciri-ciri Anak Perfeksionis

Ciri-ciri anak perfeksionis bisa di luar dugaan. Jika kita membayangkan anak yang perfeksionis merupakan anak yang sempurna, kutu buku, selalu rapi, sebagian mungkin benar, tetapi tidak semua anak perfeksionis dapat menampilkan diri mereka seperti itu. Ketika anak perfeksionis ini tidak dapat tampil seperti yang diharapkan, disitulah terjadi masalah di dalam dirinya yang perlu dipahami oleh orang dewasa agar dapat membantunya bertumbuh. Dengan bantuan Wagele (1997), saya berusaha mengungkap karakter anak perfeksionis yang mungkin saja luput dari perhatian kita.

Anak yang perfeksionis cenderung berfokus pada prinsip, moral dan etika, sebagian yang lain menjadi anak yang tidak mudah puas dan pemilih. Mereka tidak terlalu mempermasalahkan waktu. Untuk itu, mereka bisa saja sering terlambat datang ke sekolah karena mereka merasa harus mencoret beberapa hal dari dalam daftarnya sebelum mereka keluar rumah atau melakukan sesuatu. Ada yang bolak-balik mengganti tali sepatunya karena merasa warnanya kurang cocok dengan jaket yang dikenakannya, ada yang bolak-balik menyeterika bajunya karena menurut dia masih ada kerutan yang nampak, ada yang terlalu lama mengunyah sarapannya karena menurutnya makanan harus dikunyah sampai hitungan tertentu baru boleh ditelan agar tidak merusak pencernaannya, dan lain sebagainya. Guru yang mudah marah tanpa mendengarkan alasan atas keterlambatan mereka, tidak akan mengenalinya, mereka akan mudah dianggap sebagai PEMALAS.

Dalam hal sopan santun, mereka takut untuk memperlihatkan rasa marah, namun seringkali membuat kesalahan karena terlalu jujur dengan perasaan mereka yang membuat orang lain melihat mereka kasar. Hal ini membuat mereka seringkali merasa tertekan karena mengkhawatirkan untuk menjadi orang yang sopan, sementara mereka tidak tahan melihat ketidakberesan.

Dalam kebiasaan belajarnya, mereka mudah tertekan jika ingin menjadi unggul. Anak dengan corak ini terlalu keras pada diri mereka sendiri, sehingga sebaiknya guru atau orang tua tidak mengomel pada mereka karena biasanya mereka memiliki rasa bersalah yang cukup besar. Ketika orang di sekitarnya sudah memaafkannya, ia masih belum dapat memafkan dirinya sendiri.

Dalam mengambil keputusan, biasanya mereka mengambil keputusan dengan objektif. Mereka sangat menekankan untuk melakukan sesuatu dengan benar, dan hal ini kadang-kadang membuat mereka menjadi orang yang kaku. Anak dengan tipe perfeksionis ini membutuhkan dorongan untuk terlibat pada sesuatu yang benar-benar sangat ingin mereka lakukan daripada membiarkan mereka membuat keputusan yang didasarkan pada apa yang seharusnya mereka inginkan, karena apa yang mereka inginkan bisa sangat sulit untuk dipenuhi.

Dalam interaksi sosial, tekadang sangat serius dan tipe anak perfeksionis akan merasa kurang nyaman dengan anak yang sembrono atau nakal. Mereka membutuhkan lebih banyak kegiatan yang tidak bersifat kompetisi seperti berkemah atau main drama daripada kegiatan yang bergantung pada pengetahuan dan keahlian.


Anak yang perfeksionis cenderung memiliki sifat yang keras kepala, memiliki pemikiran yang terlatih untuk keadilan dan etika, dan tidak mudah dibujuk. Mereka bisa berlaku terlalu jauh dan teguh pada pendiriannya, sehingga sulit untuk mengubah perilakunya. Jika ciri ini muncul, mereka membutuhkan dorongan untuk memikirkan sudut pandang pihak oposisi (pihak yang lainnya).

Dalam hal tanggung jawab, tipe anak perfeksionis memiliki tanggung jawab yang luar biasa, sehingga mereka cenderung menyalahkan diri sendiri jika mereka gagal memenuhi harapan orang tua atau gurunya di sekolah.


Daftar Pustaka

Wagele, E. (1997). The Enneagram of Parenting: The 9 Types of Children and How to Raise Them Successfully. New York: Harper Collins Publishers Inc.

Kamis, 27 Oktober 2011

Perfeksionisme dan Kecemasan Matematika

Seperti yang sudah saya uraikan dalam tiga artikel terdahulu, bahwa kecemasan matematika itu perlu karena ternyata kecemasan yang terlihat sebagai kecemasan matematika, merupakan ciri dari karakter siswa perfeksionis yang mudah cemas.

Hasil penelitian yang saya lakukan pada tahun 2007 (Kuntoro, 2007), menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat signifikan (dengan derajat kepercayaan < .01) antara kecemasan matematika dengan socially-prescribed perfectionism (dimensi ketiga dari perfeksionisme), yaitu seseorang yang mempunyai keyakinan atau anggapan bahwa orang di sekitarnya mempunyai standar yang tinggi terhadap perilaku dirinya dan mengharapkan dirinya menjadi sempurna, dimana anggapan tersebut belum tentu benar.



Berdasarkan hal tersebut, dapat diartikan bahwa kecemasan yang selama ini terlihat pada pelajaran matematika bukanlah murni kecemasan matematika, namun merupakan kecemasan yang merupakan ciri dari socially-prescribed perfectionism. Semakin kuat anggapan seseorang bahwa dirinya dituntut menjadi sempurna dalam pelajaran matematika, semakin tinggi kecemasan yang muncul selama pelajaran matematika. Jika seseorang telah memiliki anggapan seperti itu, walaupun guru matematika atau orang-orang di sekitarnya tidak menuntut hal itu ia akan tetap merasa seperti itu.

Hasil penelitian ini juga menjelaskan kenyataan yang terjadi di lapangan, mengapa siswa seringkali menolak untuk mengerjakan soal matematika yang ditugaskan kepadanya di papan tulis walaupun sesungguhnya mereka memiliki kemampuan untuk menyelesaikan soal-soal tersebut. Bahkan mereka yang telah berhasil mengerjakan soal tersebut di buku latihan pun merasa cemas dan menolak ketika diminta mengerjakannya di papan tulis sebagai contoh bagi siswa lainnya. Jika ditanya mengapa, mereka menganggap bahwa penyelesaian yang mereka buat tidak cukup sempurna untuk dijadikan contoh.

Selain itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan negatif yang sangat signifikan(dengan derajat kepercayaan < .01) antara kecemasan matematika dengan self-oriented perfectionism (dimensi dari perfeksionisme), yaitu seseorang yang meletakkan standar tinggi untuk dirinya sendiri. Standar ini digunakan sebagai sebuah ukuran untuk mengevaluasi diri sendiri. Berdasarkan hal ini, jika self-oriented perfectionism dapat menggantikan socially-prescribed perfectionism siswa, maka hampir dapat dipastikan akan terjadi peningkatan dalam prestasi belajar matematika siswa. Untuk itu, kita perlu mengetahui lebih dalam tentang ciri-ciri karakteristik anak yang perfeksionis, yang akan saya uraikan pada artikel berikut yang berjudul: Ciri-ciri Karakter Anak Perfeksionis.




Daftar Pustaka:

Kuntoro, Martuti, 2007. Kontribusi Perfeksionisme Siswa, Dan Persepsi Siswa Terhadap Pola Asuh Orang Tua Siswa dan Karakteristik Guru Pada Kecemasan Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis: Universitas Indonesia - Depok.

Rabu, 26 Oktober 2011

Perfeksionist itu Positif....!!


Orang yang perfeksionist seringkali dianggap negatif, karena sering membuat gugup atau senewen orang-orang di sekitarnya. Di dalam masyarakat, orang-orang yang perfeksionist seringkali muncul dengan ciri-ciri orang yang suka mengatur, mengomentari kekurangan orang lain dan suka menuntut orang lain harus begini dan harus begitu, sehingga mereka sering dijauhi. Jika ia kebetulan seorang guru matematika, maka ia akan dikenal dengan sebutan 'guru killer' dan sering menimbulkan kecemasan bagi para siswanya.

Namun jika kemudian perfeksionisme dianggap sebagai sesuatu yang negatif, itu merupakan suatu kesimpulan yang sempit. Karena perfeksionisme yang selama ini dikenal oleh masyarakat hanya merupakan salah satu dimensi dari perfeksionisme itu sendiri. Agar kita tidak menjadi orang yang berpikiran sempit, mari kita mengenal lebih jauh tentang perfeksionisme.

Para ahli psikologi yang lainnya boleh saja membagi perfeksionisme ke dalam banyak dimensi, namun saya lebih senang menggunakan dimensi yang diungkapkan oleh Hewitt, Flett, Turnbull-Donovan dan Mikail (1991), karena lebih sederhana dan mudah dipahami, sehingga mudah juga diukur. Mereka membagi perfeksionisme ke dalam 3 dimensi, yaitu:



  1. Self-oriented perfectionism, yaitu seseorang yang meletakkan standar tinggi untuk dirinya sendiri. Standar ini digunakan sebagai sebuah ukuran untuk mengevaluasi diri sendiri.

  2. Other-oriented perfectionism, yaitu seseorang yang meletakkan standar dan harapan yang tinggi pada orang lain dan mengevaluasi perilaku dan cara kerja mereka berdasarkan standar tersebut.


  3. Socially-prescribed perfectionism, yaitu seseorang yang mempunyai keyakinan atau anggapan bahwa orang di sekitarnya mempunyai standar yang tinggi terhadap perilaku dirinya dan mengharapkan dirinya menjadi sempurna.

Dimensi ke-2 inilah yang paling mudah dikenali karena bersinggungan langsung dengan orang lain, yang kemudian menciptakan label di masyarakat bahwa perfeksionisme adalah sesuatu hal yang negatif. Jika kita pernah merasa terganggu dengan orang yang suka berkomentar negatif terhadap apa pun dan ingin berteriak di telinganya: 'Hai, Nobody's Perfect…!!', nah, kita sedang berhadapan dengan perfektionist yang tergolong dimensi ke-2. Seorang guru matematika sangat TIDAK dianjurkan memiliki ciri-ciri perfeksionisme dimensi ini karena dapat menyebabkan kecemasan matematika yang mematikan pada diri siswa.

Sedangkan untuk jenis dimensi yang ke-3 biasanya ada pada orang-orang yang takut tampil, selalu menolak untuk mengemukakan pendapat. Pada pelajaran matematika, biasanya terlihat pada siswa yang selalu menolak mengerjakan soal di papan tulis meskipun ia sudah mengerjakannya dengan benar di buku latihannya. Jika ditanya mengapa, mereka menganggap bahwa penyelesaian yang mereka buat tidak cukup sempurna untuk dijadikan contoh (walaupun gurunya sudah mengatakan benar, namun masih takut terhadap penilaian teman-temannya).

Kedua dimensi di atas berbeda dengan dimensi ke-1 dari perfeksionisme. Dimensi pertama inilah yang memungkinkan seseorang meraih prestasi, namun sulit sekali dikenali, karena standar tinggi yang ditetapkannya hanya untuk dirinya sendiri dan biasanya mereka juga menyimpan sendiri rasa takut gagal yang sering mereka rasakan. Jika tidak diatasi, mereka lebih fokus pada rasa cemas akan kegagalannya dan bukan pada penyelesaiannya, sehingga akibatnya mereka benar-benar gagal.


Berita baiknya, kecemasan yang mereka rasakan ini dapat menjadi suatu tanda adanya keinginan yang kuat untuk berhasil dan jika dikelola dengan baik, prestasi belajarnya dapat meningkat dengan drastis. Diharapkan para guru matematika dapat memanfaatkan dimensi pertama ini untuk mendongkrak nilai matematika siswanya. Bagaimana caranya? Kita perlu mengenali ciri-ciri anak yang perfeksionis terlebih dahulu, namun sebelumnya kita lihat dulu bagaimana hubungan dengan kecemasan matematika dari hasil penelitian yang saya lakukan di tahun 2007 (Kuntoro, 2007) dan akan saya uraikan pada artikel berikutnya dengan judul: Perfeksionisme dan Kecemasan Matematika.


Daftar Pustaka:

Hewitt, P., Flett, G., Turnbull-Donovan, W., & Mikail, S. (1991). Multidimensional Perfectionism Scale: Reliability, validity, and psychometric properties in psychiatric samples. Psychological Assessment: A Journal of Counsulting and Clinical Psychology, Vol. 3, hal. 464-468.

Kuntoro, Martuti, 2007. Kontribusi Perfeksionisme Siswa, Dan Persepsi Siswa Terhadap Pola Asuh Orang Tua Siswa dan Karakteristik Guru Pada Kecemasan Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis: Universitas Indonesia - Depok.

Minggu, 23 Oktober 2011

Kecemasan Matematika Sebagai Tanda Menuju Prestasi....!!

Kecemasan matematika (math anxiety) yang seringkali saya temui selama belasan tahun mengajar, bukanlah kecemasan matematika yang memiliki ciri-ciri sampai mengeluarkan keringat dingin, badan bergetar dan berkali-kali minta ijin pergi ke toilet, bahkan ada yang mengatakan sampai sesak nafas, mual dan pusing, atau ciri-ciri lain yang dapat menghambat proses seorang siswa memahami konsep-konsep matematika. Jika pun ada sikap apatis dari seorang siswa terhadap pelajaran matematika, bukan disebabkan oleh kecemasan matematika seperti yang didefinisikan oleh para ahli, namun lebih kepada sikap menyerah karena merasa tidak akan pernah mampu mencapai hasil seperti yang diharapkan (biasanya terjadi pada siswa yang guru matematikanya hanya menilai kamampuan mereka berdasarkan nilai yang mereka capai dan kurang memiliki mata batin yang tajam atau orang tua dan gurunya sering membanding-bandingkan kemampuan atau prestasi anaknya dengan anak lain atau saudara kandung yang lainnya).

Kecemasan matematika yang seringkali terlihat pada pelajaran matematika adalah rasa cemas yang ditunjukkan melalui usaha para siswa yang terus menerus mencari kepastian, apakah cara yang digunakannya dalam menyelesaikan satu soal matematika sudah tepat menurut gurunya sebelum benar-benar dikerjakan dengan cara tersebut. Mereka juga seringkali menolak untuk mengerjakan soal matematika yang ditugaskan kepadanya di papan tulis, walaupun sesungguhnya mereka memiliki kemampuan untuk menyelesaikan soal-soal tersebut. Bahkan mereka yang telah berhasil mengerjakan soal tersebut di buku latihan pun merasa cemas dan menolak ketika diminta mengerjakannya di papan tulis sebagai contoh bagi siswa lainnya. Jika ditanya mengapa, mereka menganggap bahwa penyelesaian yang mereka buat tidak cukup sempurna untuk dijadikan contoh.

Siswa yang memiliki ciri-ciri kecemasan seperti tersebut diatas cenderung perfeksionis. Perfeksionis itu sendiri merupakan sebuah pola perilaku dan persepsi yang didasarkan pada penempatan harapan dan standar yang sangat tinggi pada diri sendiri (Brewer, 2001). Karakteristik siswa yang perfeksionis cenderung berusaha terlalu keras untuk memenuhi standar kesempurnaan yang tinggi, baik itu yang ditetapkan oleh dirinya sendiri maupun standar yang ditetapkan oleh lingkungan di sekitarnya terhadap dirinya, seperti guru dan orang tuanya.

Dari penelitian yang saya lakukan (Kuntoro, 2007), ditemukan bahwa kecemasan matematika pada siswa dengan skor rata-rata dari perfeksionisme tinggi mempunyai hubungan yang signifikan dengan salah satu dimensinya. Hal inilah yang memungkinkan siswa untuk berprestasi di bidang matematika walaupun dirinya mempunyai kecemasan.

Berdasarkan hal tersebut, guru matematika dan para orang tua seharusnya mewaspadai jika siswa atau anaknya sama sekali tidak memiliki kecemasan dalam pelajaran matematika, karena kemungkinan siswa tersebut tidak memiliki standar prestasi yang hendak dicapai. Karena pada kenyataannya di lapangan, tidak sedikit siswa yang bangga mendapat nilai buruk dalam pelajaran matematika. Terutama terlihat pada siswa yang orang tuanya selalu memaklumi ketidakmampuannya di bidang matematika dan tidak pernah memberikan target pencapaian nilai matematika tertentu untuk anaknya dengan dalih: takut anaknya stress.

Kemudian, apa yang sebaiknya dilakukan agar prestasi belajar matematika para siswa dapat meningkat? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita mengubah dulu paradigma tentang perfeksionisme ini, yang akan saya uraikan pada artikel berikutnya yang berjudul: Perfeksionist itu Positif....!!, sebab masih banyak orang yang memandang perfeksionisme secara negatif (bisa benar, bisa tidak benar). Sayang sekali jika senjata paling ampuh ini tidak digunakan untuk mendongkrak nilai matematika para siswa.


Daftar Pustaka

Brewer, A. Lauren. (2001). Perfectionism and Parenting: The relationship of perceived parenting style of parent, attachment, parent status, and gender to parental perfectionism. Disertasi: University of Missouri-Columbia.

Kuntoro, Martuti, 2007. Kontribusi Perfeksionisme Siswa, Dan Persepsi Siswa Terhadap Pola Asuh Orang Tua Siswa dan Karakteristik Guru Pada Kecemasan Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis: Universitas Indonesia - Depok.

Kecemasan Matematika Itu Perlu.....!!

Selama ini kecemasan matematika (math anxiety) dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Seperti telah kita ketahui, banyak hasil penelitian tentang kecemasan matematika yang dikaitkan dengan hasil belajar, berkorelasi negatif (semakin tinggi kecemasan matematika seorang siswa semakin rendah prestasi belajar matematika siswa tersebut). Sedangkan kecemasan matematika yang dikaitkan dengan sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika juga berkorelasi negatif (semakin tinggi kecemasan matematika siswa semakin negatif sikap siswa terhadap pelajaran matematika). Hal ini menyebabkan pandangan negatif terhadap kecemasan matematika seperti mendapat penguatan terus menerus dari satu penelitian ke penelitian yang lainnya, sehingga kemudian banyak usaha dilakukan untuk membuat pelajaran matematika menjadi menyenangkan melalui permainan-permainan yang seringkali diberikan, dengan harapan jika dapat menjadikan pelajaran matematika lebih menyenangkan maka hasil belajarnya dapat meningkat. Apakah harapan tersebut benar-benar dapat tercapai?

Sayangnya, permainan-permainan matematika tersebut dalam pelaksanaannya kurang disesuaikan relasinya dengan topik yang akan diajarkan dan dilakukan pada waktu yang kurang tepat, sehingga malah mengacaukan konsentrasi siswa dalam memahami konsep-konsep dasar Matematika karena tujuannya hanya untuk mencairkan suasana tegang yang seringkali terlihat pada pelajaran matematika. Pelajaran matematika juga cenderung hiruk pikuk karena guru menjadi takut memberikan tuntutan-tuntutan kepada siswa agar siswa tidak merasa cemas pada pelajaran matematika dengan harapan nilai matematikanya akan meningkat, namun pada akhirnya, harapan hanya tinggallah harapan. Prestasi belajar matematika siswa tetap saja rendah.

Dari data mentah penelitian yang pernah saya lakukan di tahun 1996 (Kuntoro, 1996) tentang kecemasan matematika yang saya kaitkan dengan hasil belajar matematika siswa SMP, walaupun hasilnya juga berkorelasi negatif, namun saya menemukan beberapa kasus yang cukup menarik perhatian karena di antara partisipan dalam penelitian tersebut ada yang mempunyai prestasi cukup baik dalam pelajaran matematika dan juga mempunyai kecemasan matematika yang cukup tinggi. Hal ini ternyata terungkap kembali dalam penelitian yang dilakukan oleh Aini (2002). Dari hasil penelitiannya, Aini membagi tingkat kecemasan siswa dan hasil belajar matematika menjadi tiga kelompok, sebagai berikut:

Kecemasan Siswa yang tergolong
Tinggi 34,13%
Sedang 34,13%
Rendah 31,74%

Hasil Belajar Matematika Siswa yang tergolong
Tinggi 39,68%
Sedang 25,40%
Rendah 34,92%

Walaupun dari hasil tersebut belum dapat dipastikan bahwa siswa yang tingkat kecemasannya tinggi adalah siswa yang hasil belajar matematikanya juga tinggi, tapi dapat kita hitung bahwa 68,26% siswa tersebut tingkat kecemasannya ada di atas rata-rata dan jika hasil belajar matematika yang di atas rata-rata juga sebanyak 65,08% siswa, paling tidak ada beberapa siswa yang memiliki hasil belajar matematika tinggi dan tingkat kecemasannya juga tergolong tinggi. Sayangnya, Aini kurang menggali lebih dalam hasil penelitian tersebut dan saran yang disampaikan juga kurang mencapai sasaran. Namun, hasil penelitian ini cukup dapat menguatkan bahwa kecemasan yang muncul selama proses belajar matematika kemungkinan juga mempunyai dampak yang positif terhadap hasil belajar matematika siswa, selama kecemasan tersebut memiliki kadar yang tepat dan diakomodasi secara bijak oleh para guru.

Semoga dengan adanya artikel ini, semakin banyak para peneliti muda yang lebih berani memunculkan fakta bahwa Kecemasan Matematika juga PERLU ditumbuhkan dalam diri siswa agar tidak menjadi faktor yang dapat merusak, namun dapat menjadi suatu tanda atau harapan adanya keinginan untuk meraih prestasi. Nah, pertanyaan berikut yang mungkin muncul adalah: Faktor apakah yang dapat menyebabkan kecemasan matematika berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa? Penelitian yang saya lakukan di tahun 2007 (Kuntoro, 2007) mungkin dapat membantu menjawab pertanyaan tersebut dan akan saya ulas dalam artikel yang berjudul: Kecemasan Matematika Sebagai Tanda Menuju Prestasi....!!


Daftar Pustaka:

Aini, Muslihah Nurul. (2002). Pengaruh Kecemasan Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika (Studi Kasus Pada Siswa Kelas II Jurusan Otomotive SMK PGRI 3 Malang). Malang: Dept. Of Computation and Mathematics Education, JIPTUMM.

Kuntoro, Martuti. 1996. Pengaruh Rasa Cemas Siswa dalam Pengajaran Matematika terhadap Hasil Belajar Matematika di Kelas 1 SMPK Mater Dei Tangerang. Jakarta: Universitas Kristen Indonesia (Skripsi).

Kuntoro, Martuti, 2007. Kontribusi Perfeksionisme Siswa, Dan Persepsi Siswa Terhadap Pola Asuh Orang Tua Siswa dan Karakteristik Guru Pada Kecemasan Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Depok: Universitas Indonesia (Tesis).